Rabu, 24 November 2010

PENGEMBANGAN USAHA KECIL ( Lingkaran UKM )

http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/pengembangan-usaha-kecil

PENGEMBANGAN USAHA KECIL ( Lingkaran UKM )

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar yang menyimpan banyak potensi. Salah satunya adalah potensi ekonomi, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya pada dunia Usaha Kecil dan Menengah. Hanya sebagian kecil menjadi bagian dari usaha besar. Potensi besar usaha kecil Indonesia perlu mendapat perhatian dan pengembangan yang sungguh-sungguh dari semua pihak. Mengingat kondisi eksternal dan internal terus mengalami perubahan-perubahan yang cukup mendasar, penting bagi kalangan usaha kecil melakukan perubahan dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Kemampuan melakukan perubahan dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan akan menentukan eksistensi usaha kecil dalam perekonomian bangsa. Pada akhirnya eksistensi usaha kecil yang memiliki daya saing tinggi akan memperkokoh ekonomi bangsa secara keseluruhan.

Perubahan Fundamental Lingkungan

Pada lingkungan ekonomi tingkat lokal dan internasional telah mengalami beberapa perubahan yang cukup fundamental, yang harus disikapi secara arif. Perubahan pertama terjadi di tingkat internasional yaitu proses globalisasi dengan perdagangan bebas dunia sebagai salah satu motor penggeraknya. Perubahan fundamental kedua terjadi di dalam negeri, yaitu berlangsungnya transformasi struktur perekonomian nasional dan peningkatan pendapatan masyarakat yang diikuti oleh perubahan pola konsumsi masyarakat.

Perubahan fundamental pertama yang mempunyai dampak langsung pada perekonomian nasional, dan usaha kecil nasional, adalah globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Ditinjau dari sisi permintaan, konsumen akan membutuhkan barang dan jasa yang makin beragam serta menuntut jaminan kualitas yang lebih tinggi dengan demikian tuntutan konsumen yang makin tinggi

Di pasar domestik, globalisasi menyebabkan terjadinya proses internasionalisasi sistem budaya dengan dampak langsung terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Pergeseran pola konsumsi ini akan menggeser pula permintaan akan produk-produk nasional yang tidak memiliki ciri budaya “internasional”.

Perubahan fundamental kedua berkenaan dengan dinamika pembangunan ekonomi nasional itu sendiri, yaitu transformasi struktur perekonomian dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern, dari ekonomi agraris ke ekonomi industri. Proses transformasi ini dengan sendirinya mempengaruhi pula pola produksi dan pola konsumsi masyarakat. Proses industrialisasi akan menghasilkan permintaan yang meningkat akan bahan-bahan baku dan barang-barang setengah jadi, serta komponen-komponen bagi industri pada berbagai tahapannya dari hulu sampai ke hilir. Dengan demikian, permintaan akan berbagai jenis barang bukan hanya meningkat, tetapi makin beragam. Di bidang jasa, juga terjadi proses yang sama, karena proses transformasi yang sedang terjadi juga menyangkut jasa-jasa, yang akan makin penting perannya dalam struktur ekonomi yang modern. Permintaan akan jasa-jasa makin besar, baik volume, jenis, maupun kualitasnya.

Kedua proses perubahan itu, baik yang terjadi di dalam bangsa kita sendiri, maupun dalam perekonomian dunia, dengan sendirinya tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait. Proses perubahan global juga berpengaruh pada proses trans formasi struktural dan perkembangan penda patan masyarakat di dalam negeri.

Peluang Usaha Bagi Usaha Kecil

Kedua perubahan fundamental tersebut menghasilkan hal yang sama, yaitu memberikan kesempatan kepada dunia usaha nasional untuk berkembang dan berkembang dengan kecepatan yang tinggi, karena proses globalisasi itu sendiri bergerak dengan cepat. Untuk bisa memanfaatkan kesempatan itu, ada syarat yang harus dipenuhi. Pertama ,daya saing, dan kedua, kewirausahaan (entrepreneurship). Peluang usaha bagi semua kalangan usaha termasuk Usaha Kecil Dan Menengah.

Peluang yang terbuka untuk mengembangkan usaha dalam perekonomian yang makin terbuka dan terintegrasi dengan ekonomi dunia hanya bisa dimanfaatkan kalau dunia usaha kita memiliki daya saing. Usaha nasional sudah tidak bisa lagi bersandar pada proteksi untuk pasar dalam negeri dan subsidi untuk pasar ekspor. Oleh karena itu, peningkatan daya saing harus menjadi agenda utama pembangunan nasional kita. Daya saing dihasilkan oleh produktivitas dan efisiensi serta partisipasi masyarakat yang seluas-luasnya dalam perekonomian.

Produktivitas menyangkut kualitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi, dan pengelolaan sumber daya alam secara tepat yang menjamin bukan hanya keekonomian tetapi juga kesinambungannya. Efisiensi berarti sedikitnya hambatan dan berfungsinya dengan baik ekonomi sehingga mendorong biaya-biaya produksi menjadi serendah mungkin. Efisiensi dengan demikian menyangkut berbagai aspek kelembagaan. Partisipasi masyarakat diperlukan untuk membuat seluas mungkin basis perekonomian sehingga menjadi kukuh dan handal, baik masyarakat sebagai produsen maupun sebagai konsumen. Berkaitan dengan itu syarat yang kedua, kewirausahaan memerlukan syarat-syarat pengetahuan untuk bisa berusaha dalam dunia perekonomian modern, seperti pengetahuan yang minimal mengenai modal, pasar, mana jemen usaha, teknologi, dan informasi. Namun, lebih mendasar dari itu adalah pengembangan kebudayaan berusaha (business culture). Masyarakat yang tidak memiliki kecenderungan untuk berusaha, sulit untuk maju dan berkembang apalagi bersaing dalam ekonomi pasar yang terintegrasi dengan ekonomi global.

Dalam keadaan yang demikian, proses perubahan yang terjadi baik di pasar dunia maupun di dalam negeri belum tentu akan menguntungkan lapisan usaha kecil. Yang terjadi bahkan bisa sebaliknya. Usaha kecil bisa makin terdesak dalam persaingan karena posisi persaingan yang tidak seimbang. Upaya mengatasi masalah ini harus menjadi agenda pembangunan yang pokok pula. Upaya itu harus dilandasi oleh strategi penguatan dan pemberdayaan, yang tujuannya adalah selain memampukan juga memandirikan lapisan pengusaha kecil. Dari pengalaman negara-negara lain, kita ketahui bahwa kecil tidak harus berarti lemah, dan besar tidak harus berarti kuat. Oleh karena itu, ada peluang besar bagi kita untuk membuat lapisan usaha kecil itu menjadi kuat dan bahkan bersama dengan usaha menengah yang lahir dari usaha kecil yang maju dan bisa menerobos lingkaran “kekecilannya”, menjadi tulang punggung dunia usaha nasional dan dengan demikian menjadi tulang punggung perekonomian nasional yang tangguh dan handal.

Strategi Pengembangan Usaha Kecil

Untuk menangkap peluang-peluang dari perubahan fundamental tersebut itu harus ada strategi yang tepat, yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

Pertama, peningkatan akses kepada aset produktif, terutama modal, di samping juga teknologi, manajemen, dan segi-segi lainya yang penting.

Kedua, peningkatan akses pada pasar, yang meliputi suatu spektrum kegiatan yang luas, mulai dari pencadangan usaha, sampai pada informasi pasar, bantuan produksi, dan prasarana serta sarana pemasaran. Khususnya, bagi usaha kecil di perdesaan, prasarana ekonomi yang dasar dan akan sangat membantu adalah prasarana perhubungan.

Ketiga, kewirausahaan, seperti yang telah dikemukakan di atas. Dalam hal ini pelatihanpelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berusaha teramat penting. Namun, bersamaan dengan atau dalam pelatihan itu penting pula ditanamkan semangat wirausaha. Bahkan hal ini harus diperluas dan dimulai sejak dini, dalam sistem pendidikan kita, dalam rangka membangun bangsa Indonesia yang mandiri, yakni bangsa niaga yang maju dan
bangsa industri yang tangguh. Upaya ini akan memperkuat proses transformasi ekonomi yang sedang berlangsung karena didorong oleh transformasi budaya, yakni modernisasi sistem nilai dalam masyarakat.

Keempat, kelembagaan. Kelembagaan ekonomi dalam arti luas adalah pasar. Maka memperkuat pasar adalah penting, tetapi hal itu harus disertai dengan pengendalian agar bekerjanya pasar tidak melenceng dan mengakibatkan melebarnya kesenjangan. Untuk itu diperlukan intervensi-intervensi yang tepat, yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah yang mendasar dalam suatu ekonomi bebas, tetapi tetap menjamin tercapainya pemerataan sosial (social equity).

Kelima, kemitraan usaha. Kemitraan usaha merupakan jalur yang penting dan strategis bagi pengembangan usaha ekonomi rakyat. Kemitraan telah terbukti berhasil diterapkan di negara-negara lain, sepeti keempat macan Asia, yaitu Taiwan, Hongkong, Singapore, dan Korea Selatan, dan menguntungkan pada perkembangan ekonomi dan industrialisasi mereka yang teramat cepat itu

USAHA TERNAK AYAM POTONG (Lingkaran UKM)

USAHA TERNAK AYAM POTONG (Lingkaran UKM)

Daging ayam merupakan daging favorit di negara kita. Hampir 100% orang Indonesia suka makan daging ayam, maka dari itu merupakan peluang yang sangat bagus berbisnis ternak ayam potong. Dulu pada waktu flu burung melanda dunia, bisnis ini menjadi hancur. Sebab tidak ada yang berani makan daging ayam, sehingga banyak para peternak yang gulung tikar. Sekarang berhubung issu flu burung sudah tidak ada, kesempatan memulai bisnis ini menjadi bagus. Saatnya sekarang ini untuk memulai mumpung masi banyak kandang-kandang bekas yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya untuk dibeli dengan harga murah dibandingkan dengan membuat kandang baru yang tentu lebih mahal. Usaha ini biasanya dilakukan dengan sistem kerja sama dengan peternak pembibitan ayam potong. Sehingga anda tidak perlu repot-repot menyadiakan bibit, pakan dan obat-obatan, karena semua telah disiapkan oleh peternak pembibitan tadi. Dengan sistem kerja sama ini anda hanya menyiapkan kandang beserta alat-alat untuk pemeliharaan ayam potong dengan sistem bagi hasil 50%.

Dalam usaha pertanian, perkabunan, peternakan pokoknya agribisnis kita memiliki kemudahan, sebab banyak orang-orang yang ahli di bidang ini terutama di desa-desa. Sehingga tidak ada kesulitan dalam mencari pekerja yang ahli, dengan demikian kelancaran bisnis ini bisa dijamin. Namun kendala yang biasanya dialami pada usaha agribisnis adalah pekerja yang nakal dan tidak jujur. Tapi hal ini jarang terjadi sebab orang-orang desa kebanyakan jujur-jujur walaupun ada yang nakal tapi sedikit. Namun harus pandai-pandai memilih pekerja yang jujur, jujur apa tidaknya pekerja dapat diketahui dengan sistem penghitungan jumlah pakan yang dihabiskan berbanding jumlah hewan ternak, dengan perhitungan tadi dapat pula diketahui berat ternak tanpa harus menimbangnya.

Langkah-langkah yang dibutuhkan

Mencari lokasi yang tanahnya kering (bukan daerah persawahan) untuk menempatkan kandang dengan tujuan agar kandang tidak cepat rusak terutama kandang yang tiang-tiangnya terbuat dari bambu akan cepat rusak jika lokasi terletak pada tanah basah (karena kandang dari tiang bambu murah), namun jika tiang-tiang kandang terbuat dari kayu kelapa tidak masalah dibuat di atas tanah basah karena memakai penyangga beton (kandang bertiang kayu kelapa lebih mahal).

Usahakan mencari kandang bekas untuk dibeli, sebab berarti pernah dipakai sehingga sudah diperhitungkan oleh pemilik sebelumnya bahwa lokasi kandang bagus. Perlu diketahui apa penyebab kandang bekas tadi berhenti dipakai untuk penanggulangan, tapi biasanya para peternak ayam potong yang menutup usahanya kebanyakan disebabkan oleh kasus flu burung. Jika ini penyebabnya maka kandang bekas tersebut baik untuk digunakan sebab kasus flu burung sudah reda (sudah tidak ada).

Jika tidak menemukan kandang bekas, buatlah kandang untuk ukuran isi 4000 ekor ayam. Biasanya sudah ada tukang ahli dalam pembuatan kandang yang menawarkan jasa pembuatan kandang lengkap dengan peralatan tempat pakan, penghangat, tempat air minum, dll.

Temui peternak pembibitan ayam potong untuk diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil. Dengan sistem ini akan mempermudah dalam pengadaan semua yang dibutuhkan karena peternak pembibitan biasanya menyediakan kebutuhan-kebutuhan ternak yang lengkap dan tidak perlu repot-repot dalam pemasarannya karena biasanya mereka yang beli kembali hasil panen kemudian dihitung jumlah kebutuhan yang telah dihabiskan baru setelah itu keuntungan dibagi. untuk ukuran kandang isi 4000 ekor diisi dengan 3700 ekor agar kandang menjadi lega.

Mencari pekerja yang bertugas mengurus pakan dan minuman ternak dan memelihara sesuai dengan cara yang benar dengan upah yang sesuai, untuk 3700 ekor ayam dibutuhkan 2 orang pekerja (setiap satu orang diupah Rp600.000,-). Kemudian usahakan untuk selalu datang mengontrol setiap hari walaupun hanya sebentar setiap sore pada waktu ternak diberi pakan.

Proses kerja usaha ini

Sehari sebelum bibit ayam didatangkan kandang harus dipersiapkan, letakkan terpal pada seluruh lantai kemudian sebarkan gabah padi di atasnya dan siapkan pula terpal atau sambungan karung-karung untuk menutup rapat dinding kandang. Ini bertujuan agar kandang tetap hangat. Kemudian siapkan 40 karung pakan (setiap pengiriman pakan 40 karung, total pakan yang dihabiskan 260 karung per karung seberat 50kg).

Pada hari bibit ayam didatangkan siapkan triplek sebagai sekat yang dibuat melingkar dengan ketinggian 60cm berdiameter 4 meter, sekat dengan diameter tersebut untuk menampung sekitar 600 ekor bibit ayam. Jadi untuk 3700 ekor ayam diperlukan enam lingkaran skat.

Letakkan sebuah kompor penghangat (kompor khusus untuk penghangat ayam) di tengah-tengah setiap lingkaran skat, kemudian letakkan 15 tempat pakan (talam berdimeter 50cm) dan 8 unit tempat air minum di setiap skat.

Beri pakan dan air minum setiap pagi dan sore, setiap sore air dicampur dengan obat anti stress (disediakan oleh bos bibit). Setelah 4 atau 5 hari ternak diberi vaksin Ende dengan cara diteteskan pada mata ternak. Kemudian tempat pakan (talam) diganti dengan tempat pakan khusus ayam yang ditaruh dengan menggantungkannya setinggi 2cm dari lantai kandang dan terpal penutup dinding dibuka bagian atasnya. Sekat diperbesar sesuai dengan kepadatan ternak yang semakin besar.

Pada hari ke12 diberikan vaksin Rumboru yang dicampurkan pada susu skin (susu untuk pertumbuhan bulu ayam), kemudian alas kandang (terpal dan gabah) dibongkar dan alat penghangat berhenti dipakai, kemudian lingkaran skat dan terpal penutup dinding dibuka. Kandang dibersihkan jika musim panas cukup sekali saja dibersihkan, namun jika musim hujan maka kandang harus dibersihkan setiap seminggu setelah hari ke12. Skat diganti dengan skat ruang kandang dengan bambu yang di buat di setiap jarak 10 meter diberi jarak 2 cm antara bambu-bambu skat, setiap sekat tetap berisi 600 ekor ayam, kemudian tempat pakan ditambah menjadi 26 unit dan digantungkan lebih tinggi dari permukaan lantai kandang menjadi 6 cm.

Pada hari ke18 ternak diberikan vaksin Ende yang dicampurkan pada susu skin, setiap pemberian vaksin dilakukan pada waktu sore. Kemudian seminggu sebelum panen yakni di hari ke 28, obat anti stress berhenti diberikan.

Segala sesuatunya mulai dari jumlah pakan, obat anti stress, vaksin, semua dihitung dan dicatat untuk dijadikan data yang akan dicocokkan dengan data peternak bibit (boss yang mensuplai segala kebutuhan tadi) agar penghitungan bagi hasil menjadi benar. Begitu pula pada waktu panen semua ternak yang dikeluarkan untuk dijual harus ditimbang dan dicatat untuk dijadikan data. Adapun ayam yang afkir dipisah penimbangan dan pendataannya, sebab harganya lebih murah dari yang normal, jika yang normal berharga Rp14.000,- per kg maka yang afkir berharga Rp10.000,-.

Panen biasanya dilakukan 6 kali selama satu tahun. Setelah panen kandang dibiarkan selama tiga hari menunggu sampai kotoran ternak kering baru setelah itu dibersihkan dan kotoran dikumpulkan dalam karung-karung bekas pakan dapat dijual seharga Rp2000,- kepada petani untuk dijadikan pupuk, dalam sekali panen bisa menghasilkan 150 karung kotoran. Begitu pula dengan karung bekas pakan dapat dijual seharga Rp2000,-. Hasil penjualan kotoran dan karung bekas dapat menutupi ongkos air PDAM dan listrik dan minyak tanah bahan bakar penghangat kandang.

Jumlah biaya yang dihabiskan dan keuntungan yang dihasilkan.

Sewa tanah beserta kandang yang dapat menampung 4000 ekor ayam Rp15.000.000,- per tahun.

Biaya gaji 2 orang pekerja Rp600.000,- per orang per sekali panen Rp1.200.000,- .

Biaya bibit per kardus isi 100 ekor Rp370.000,- total harga 37 kardus berisi 3700 ekor bibit ayam Rp13.690.000,-(dibayar setelah panen).

Biaya pakan per kwintal Rp265.000,- pakan yang dihabiskan sekali panen adalah 130 kwintal seharga Rp265,000,- kali 130 kwintal sama dengan Rp34.450.000,-.(dibayar setelah panen)

Biaya 20 bungkus obat anti stress yang dihabiskan selama sekali panen adalah Rp240.000,-(dibayar setelah panen).

Biaya 24 botol vaksin selama sekali panen Rp360.000,- (dibayar setelah panen).

Dari 3700 ekor bibit biasanya dapat dipanen 3500 ekor per ekor rata-rata memiliki berat 1,5kg, maka hasil penjualan sekali panen Rp14.000,- dikali 5250kg (berat 3500 ekor ayam) sama dengan Rp73.500.000,-.

Keuntungan yang didapat adalah : hasil penjualan Rp73.500.000,- dikurangi jumlah total biaya pakan, bibit, obat anti stress, vaksin Rp48.740.000,- sama dengan Rp24.760.000,-.

Karena sistem kerja bagi hasil dengan penyuplai bibit dan kebutuhan 50%-50%, maka keuntungan yang didapat dibagi dua menjadi Rp12.380.000,- per sekali panen.

Modal yang harus disiapkan pada awalnya adalah untuk pembiayaan kandang. Jika menyewa kandang orang maka cukup Rp15.000.000,-.

Jika menyewa tanah 10 tahun dan membikin kandang sendiri untuk isi 4000 ekor maka jumlah modal yang harus disiapkan uang sewa tanah Rp10.000.000,- plus biaya kandang Rp60.000.000,- sama dengan Rp70.000.000,-.

Pemasaran

Untuk pemasaran hasil panen karena memakai sistem kerja sama maka sudah diurus oleh klien pembibitan sehingga kita tidak perlu memikirkan pemasaran.

Penutup

Sungguh mengherankan jika melihat fakta bahwa masi banyak penduduk negeri ini yang hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal negara kita memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Mungkin karena sangat jarang yang memanfaatkan kekayaan alam kita, termasuk pemerintah yang tidak memperdulikan rakyatnya yang didesa yang membutuhkan modal untuk mengelola kekayaan alam mereka. Semoga pembaca terbuka fikirannya sehingga tertarik untuk memaksimalkan pemanfaatan kekayaan alam kita.

Rabu, 03 November 2010

Manajemen Iklan - Sebuah Alat Efektif Untuk Sukses UKM

Sumber: http://EzineArticles.com/?expert=Martin_Parks

Manajemen Iklan - Sebuah Alat Efektif Untuk Sukses UKM

Periklanan merupakan salah satu alat yang paling penting dalam menciptakan dampak yang kuat untuk merek tertentu di dunia yang kompetitif saat ini. sektor Kecil atau besar, publik atau swasta, semua bersumpah dengan pentingnya mempromosikan merek seseorang dan mengakui pentingnya iklan pintar (iklan) kampanye dan diatur dengan baik rencana iklan.

Manajemen Iklan penting untuk mendapatkan keuntungan yang optimal

Sebelumnya, hanya merek besar digunakan untuk investasi besar-besaran pada iklan tetapi sekarang UKM juga telah bergabung ikut-ikutan dalam menuai manfaat dari berbagai channel periklanan pijakan untuk membangun pasar melalui promosi yang efektif. jumlah yang lebih besar dari UKM dan rumah bisnis lokal Penalian di perusahaan periklanan untuk mengelola kegiatan mereka promosi dan pemasaran.

"Dalam rangka untuk membuat produk mereka populer di pasar, usaha kecil menunjukkan kesiapan mereka untuk langkah-up pengeluaran mereka pada iklan Bahkan rumah bisnis lokal. Siap untuk keluar uang tambahan untuk menyewa konsultan yang akan memungkinkan mereka untuk memilih yang tepat promosi alat dalam rangka untuk meningkatkan visibilitas mereka, "kata Aditya Agarwal, pemilik Hot Enterprises Kas, berukuran kecil Kolkata berbasis unit manufaktur garmen.

Namun, sebelum membayar harga yang mahal untuk agen periklanan, UKM harus menganalisa apakah kampanye promosi dirancang untuk produk mereka sesuai dengan citra mereka dan pergi dengan baik dengan pelanggan atau hanya berhasil tampil sebelum mata publik tanpa menghasilkan dampak yang signifikan.

"Mengambil layanan dari biro iklan tidak cukup untuk meningkatkan citra publik dan menciptakan goodwill di pasar. Usaha kecil perlu terus memantau kampanye promosi dan menggunakan anggaran kampanye iklan mereka bijaksana sehingga mereka dapat menjangkau pelanggan potensial mereka tanpa menciptakan lubang di saku mereka, "kata Devank Maheshwari, pemilik Sonu Komunikasi, komunikasi berukuran kecil penyedia solusi di Kolhapur, Maharashtra.

pengelolaan kegiatan periklanan yang tepat akan membantu usaha kecil untuk mendapatkan perhatian publik yang diinginkan tanpa menanggung beban keuangan.

Martin Parks adalah penulis dikenal baik dan telah menulis artikel tentang Tas Dompet dan Tas Kamera , pemasok, Manufaktur dan mata pelajaran lainnya.




Manajemen pemasaran (TUGAS SOFTSKILL)

Sumber buku : Tjiptono, Andy (1996), Manajemen Jasa. Yogyakarta: Penerbit Andi offset.

Manajemen Pemasaran Jasa



KONSEP DAN PENGERTIAN JASA

Sebenarnya perbedaan secara tegas antara barang dan jasa sering kali sukar dilakukan. Hal ini dikarenakan pembeli suatu barang sering kali disertai dengan jasa-jasa tertentu (misalnya instalasi , pemberian garansi , pelatihan dan bimbingan operasional , perawat , dan reparasi) dan sebaliknya pembelian suatu jasa seringkali juga melibatkan barang-barang yang melengkapinya (misalnya makanan di restoran , telepon dalam jasa telekomunikasi). Meskipun demikian jasa dapat didefinisikan sebagai berikut ( kotler ,1994 :

Jasa adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepaa piahak lain , yang pada dasarnya bersifat intangiable ( tidak berwujud fisik ) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Produksi jasa bisa berhubungan dengan produk fisik atau tidak.

KLASIFIKASI JASA

Sebagai konsekuensi dari adanya berbagai macam variasi bauran antara barang dan jasa di atas , maka sulit untuk menggeneralisir jasa bila tidak melakukan pembedaan lebih lanjut. Banyak pakar yang melakukan klasifikasi jasa , dimana masing-masing ahli menggunakan dasar pembedaan yang disesuaikan dengan sudut pandangnya masing-masing. Klasifikasi jasa dapat dilakukan berdasarkan tujuh kriteria ( Lovelocl , 1987 dalam evans dan Bremen , 1990 ) yaitu :

  1. Segmen Pasar

Berdasarkan segmen pasar jasa dapat dibedakan menjadi jasa pada konsumen akhir ( misalnya taksi , asuransi jiwa, dan pendidikan ) dan jasa kepada konsumen organisasional (misalnya jasa akuntansi dan perpajakan, jasa konsultasi manajemen, dan jasa konsultasi hukum ). Perbedaan utama antara kedua segmen tersebut adalah dalam memilih jasa, kuantitas jasa yang dibutuhkan, dan kompleksitas pengerjaan jasa tersebut.

  1. Tingkat keberwujudan ( tangibility )

Kriteria ini berhubungan dengan tingkat keterlibatan produk fisik dengan konsumen. Berdasarkan kriteria ini, jasa dapat dibedakan menjadi tiga macam :

    1. Rented goods service

Dala jenis ini konsumen menyewa dan menggunakan produk-produk tertentu berdasarkan tarif tertentu selama jangka waktu tetentu pula. Konsumen hanya dapat menggunakan produk tersebut, karena kepimilikannya tetap berada pada pihak perusahaan yang menyewakannya. Contohnya penyewaan mobil, kaset vieo, villa, dan apartement.

    1. Owned goods service

Pada owned good service, produk-produk yang dimiliki konsumen direparasi, dikembangkan atau ditingkatkan unjuk kerjanya, atau dipelihara/dirawat oleh perusahaan jasa. Jenis jasa ini juga mencakup perubahan bentuk pada produk yang dimiliki konsumen. Contohnya jasa reparasi ( arloji, mobil, sepeda motor, komputer, dll )

    1. Non goods service

Karakteristik pada jenis ini adalah jasa personal bersifat intangible ( tidak berbentuk produk fisik ) ditawarkan kepada para pelanggan. Contohnya supir, baby sitter, dosen, tutor, pemandu wisata, ahli kecantikan, dll.

  1. Keterampilan penyedia jasa

Berdasarkan tingkat keteramplan penyedia jasa, jasa terdiri atas professional service ( misalnya konsultan manajemen, konsultan hokum, konsultan pajak, konsultan system informasi, dokter, perawat, dan arsitek ) dan nonprofessional service ( misalnya supir taksi dan penjaga malam ). Pada jasa yang memerlukam keterampilan tinggi dalam proses operasinya pelanggan cenderung sangat selektif dalam memilih penyedia jasa. Hal inilah yang menyebabkan para professional dapat mengikat para pelanggannya.

  1. Tujuan organisasi jasa

Berdasarkan tujuan organisasi , jasa dapat dibagi menjadi commercial service atau profit service ( misalnya penerbangan, bank, dan jasa parsel ) non profit service (misalnya sekolah, yayasan, dana bantuan, panti asuhan, panti werda, perpustakaan dan museum).

KARAKTERISTIK JASA

Ada empat karakteristik pokok pada jasa yang membedakannya dengan barang. Keempat karakteristik tersebut meliputi :

Intangibility , Jasa berbeda dengan barang. Jika barnag merupakan suatu objek, alat, atua benda, maka jasa adalah suatu perbuatan, kinerja ( performance ) , atau usaha.bila barang dapat dimiliki , maka jasa hanya dapat dikonsumsi tetapi tidak dapat dimiliki. Jasa bersifat intangible, artinya tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, dicium, atau didengar sebelum dibeli.konsep intangible ini sendiri memiliki dua pengertian ( Berry dalam Enis dan cox, 1998 ) , yaitu :

  1. sesuatu yang tidak dapat disentuh dantidak dapat dirasa
  2. sesuatu yang tidak mudah didefinisikan, diformulasikan, atau dipahami secara rohaniah

Seseorang tidak dapat menilai hasil dari jasa sebelum ia menikmatinya sendiri. Bila pelanggan membeli jasa, maka ia hanya menggunakan, memanfaatkan, atau menyewa jasa tersebut.

Inseparability , Barang biasanya diproduksi kemudian dijual lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa biasanya dijual terlebih dahulu baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan merupakan cirri khusus dalam pemasaran jasa. Keduanya mempengaruhi hasil (outcome) dari jasa tersebut. Dalam hubungan penyedia jasa dan pelanggan ini, efektivitas individu yang menyampaikan jasa (contact-personnel) merupakan unsur penting. Dengan demikian kunci keberhasilan bisnis dan jasa ada pada proses recruitment, kompensasi, pelatihan, dan pengembangan karyawannya. Demikian pula halnya dengan fasilitas pendukung jasa sangat perlu diperhatikan, misalnya ruang kuliah yang nyaman, tersedianya OHP, Fasilitas komputer, book store, mesin fotocopy, CD ROM, dsb. Pemilihan lokasi yang tepat, dalam artian dekat dan mudah dicapai pelanggan juga perlu dipertimbangkan.

Variability , Jasa bersifat variabel karena merupakan nonstandardized output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada siapa,kapan, dan dimana jasa tersebut dihasillan. Ada tiga faktor yang menyebabkan variabilitas kualitas jasa (Bovee, Houston, Dn Thill, 1995) yaitu kerjasama atau partisipasi pelanggan selama penyampaian jasa, moral/motivasi karyawan dalam melayani pelanggan , dan beban kerja perusahaan. Pada industri jasa yang bersifat people based , komponen manusia yang terlibat jauh lebih banyak daripada jasa yang bersifat equipment-based. Para pembeli jasa sangat peduli terhadap variabilitas yang tinggi ini dan seringkali mereka meminta pendapat orang lain sebelum memutuskan untuk memilih penyedia jasa.

Perishability , Menurut Stanton, Etzel, dan Walker (1991), ada pengeculian dalam karakteristik perishability dan penyimpanan jasa. Dalam kasus tertentu jasa bisa disimpan , yaitu dalam bentuk pemesanan (misalnya reservasi tiket pesawat dan kamar hotel) , peningkatan permintaan akan suatu jasa pada saat permintaan sepi (misalnya minivication weekends di hotel-hotel tertentu) , dan penundaan jasa (misalnya asuransi). Sebagai contoh asuransi dibeli oleh pelanggan, kemudian jasa tersebut ditahan oleh perusahaan asuransi sampai saat dibutuhkan oleh pemegang polis atau ahli waris klien yang bersangkutan. Dengan demikian hal ini bisa dianggap sebagai suatu bentuk penyimpanan.

PAKET JASA , Paket jasa dapat diartikan sebagai suatu bundel yang terdiri atas barang dan jasa yang disediakan dalam lingkungan tertentu. Bundel ini memiliki empat karakteristik berikut :

  1. Fasilitas penunjang , yaitu sumberdaya fisik yang harus ada sebelum suatu jasa apat ditawarkan kepada konsumen. Misalnya rumah sakit, pesawat terbang, dan golf course.
  2. Barang-barang pendukung (fasilitator) , yaitu bahan-bahan yang dibeli atau dikonsumsi oleh pembeli atau bias pula setiap item yang disediakan oleh konsumen. Contohnya golf clubs, menu atau hidangan restoran, suku cadang pengganti dalam reparasi mobil, dokumen-dokumen tertentu dll.
  3. Jasa-jasa eksplisit , yakni segala manfaat yang dapat diamati dan dirasakan dengan panca indera. Jasa eksplisit umumnya meliputi karakteristik jasa yang essensial atau intristik. Misalnya waktu respon barisan pemadam kebakaran.
  4. Jasa-jasa implisit , yaitu manfaat psikologis yang hanya dirasakan konsumen secara samar-samar. Dengan kata lain adalah karakteristik ekstrinsik yang melengkapi suatu jasa. Misalnya privacy dari suatu lembaga kredit dan tingkat status dari suatu sekolah favorit.

MASALAH-MASALAH DALAM BISNIS JASA

Masalah yang berkaitan dengan karakteristik intangibility :

Ø Jasa tidak dapat disimpan

Ø Jasa tidak dapat dilindungi dengan hak paten

Ø Perusahaan idak dapat dengan mudah dan cepat mempertunjukkan atau mengkomunikasikan suatu jasa

Ø Harga sukar ditetapkan

Masalah yang berkaitan dengan karakteristik insperability :

Ø Konsumen terlibat dalam aktivitas produk jasa

Ø Kegiatan pemasaran dan produksi sangat interaktif

Ø Produk massa yang terpusat sangat sukar dilakukan dalam jasa

Masalah yang berkaitan dengan karakteristik variability :

Ø Sangat sulit melakukan standarisasi dan pengendalian kualitas jasa

Masalah yang berhubungan dengan karakteristik perishability :

Ø Jasa tidak dapat disimpan

Dengan mempertimbangkan berbagai karakteristik khusus dan unik pada jasa, serta permasalahan-permasalahan yang muncul, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan perusahaan jasa, diantaranya :

Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristin intangibility :

Ø Menekankan petunjuk-petunjuk yang tampak (tangible cues) , yaitu tempat (desain interior dan eksterior), sumber daya manusia (ramah, responsif, murah senyum, berpakain rapi), peralatan (komputer,meja,kursi,dll) bahan-bahan komunikasi (brosur, pamflet, leaflet, papan pengumuman, dsb),simbol perusahaan dan harga.

Ø Menggunakan sumberdaya personal lebih banyak daripada sumberdaya lainnya.

Strategi mengatasi masalah yang ditimbulakan oleh karakteristik insperability :

Ø Melakukan seleksi dan pelatihan secara cermat terhadap public contact personnel yaitu setiap karyawan yang berhubungan langsung dengan orang banyak. Kriteria yang perlu ditekankan adalah kemampuan berkomunikasi yang baik, responsive, sanggup melayani pelanggan, pengetahuan yang luas, dan dapat dipercaya.

Ø Mengelola konsumen (manage customers)

Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik variability :

Ø Mengindustrialisasikan jasa , dengan cara menambah dan memanfaatkan peralatan canggih, serta melakukan standarisasi produk. Contohnya McDonald’s menawarkan menu yang sudah tertentu, dengan sistem produksi menyerupai sistem produksi manufaktur.

Strategi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh karakteristik perishability :

Ø Mengurangi permintaan pada periode permintaan puncak. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, menaikkan harga sehingga penndapatan dapat ditingkatkan. Kedua, menerapkan differential pricing atau memberikan insentif dengan tujuan mendorong pemanfaatan pada kesempatan lain di luar priode puncak. Misalnya menentukan tariff local pada malam hari dan hari libur yang lebih murah daripada periode sibuk dipagi dan siang hari. Ketiga, menerapkan demarketing, misalnya menggunakan iklan yang menawarkan diskon khusus apabila konsumen berbelanja jauh-jauh hari sebelum hari lebaran.

Ø Menggunakan karyawan paruh waktu pada periode sibuk sehingga perusahaan dapat melayani permintaan pelanggan. Misalnya kantor pos mempekerjakan pelajar dan mahasiswa pada saat menjelang lebaran. Natal, dan tahun baru.